Hari Lebaran

Setelah sebulan penuh berpuasa di bulan Ramadan, akhirnya tibalah hari yang paling ditunggu, yaitu Hari Lebaran. Sejak malam takbiran, suasana sudah terasa sangat meriah. Suara takbir menggema di seluruh penjuru kampung, membuat hati saya bergetar penuh haru. Saya dan keluarga ikut menyaksikan pawai takbiran yang dipenuhi dengan lampu warna-warni dan dentuman bedug. Malam itu benar-benar terasa istimewa karena penuh dengan rasa syukur dan kebahagiaan.


Keesokan paginya, saya bangun lebih awal dari biasanya untuk bersiap salat Id. Setelah mandi dan mengenakan baju baru berwarna putih, kami sekeluarga berangkat ke lapangan bersama tetangga. Udara pagi terasa sejuk dan segar, menambah semangat menjalankan ibadah. Setelah salat Id selesai, kami saling bersalaman dan bermaafan. Saat sungkem kepada orang tua, suasana menjadi haru. Saya meminta maaf atas kesalahan yang pernah saya lakukan, dan tak terasa air mata menetes karena rasa syukur dan bahagia.


Setelah itu, kami kembali ke rumah untuk menikmati hidangan khas Lebaran yang sudah disiapkan ibu sejak pagi. Ada ketupat, opor ayam, sambal goreng ati, dan rendang yang aromanya sangat menggugah selera. Tidak lama kemudian, saudara dan tetangga mulai berdatangan untuk bersilaturahmi. Suasana rumah menjadi ramai dan penuh tawa. Anak-anak terlihat gembira karena mendapat uang saku dari para orang dewasa, sementara orang tua saling bertukar cerita dan canda.


Menjelang sore, kami sekeluarga berkunjung ke rumah nenek dan kerabat lainnya. Di setiap rumah, sambutannya selalu hangat dan penuh keakraban. Meskipun terasa lelah, hati saya sangat senang karena bisa bertemu keluarga besar yang jarang saya jumpai. Hari Lebaran bagi saya bukan hanya tentang makanan atau pakaian baru, tetapi tentang kebersamaan, saling memaafkan, dan mempererat tali silaturahmi. Itulah yang membuat Hari Lebaran selalu terasa begitu bermakna setiap tahunnya.

Komentar

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa itu makanan Khas jogja

Buah nangka muda